Hak-Hak Suami dalam Syariat Islam

Hak-Hak Suami dalam Syariat Islam

Keluarga laksana batu pertama dari sebuah bangunan masyarakat. Apabila keluarga baik maka baiklah masyarakat tersebut, demikian juga sebaliknya, apabila keluarga rusak maka rusaklah masyarakat itu. Oleh karena itu, Islam memberikan perhatian yang cukup besar dalam masalah ini. Sebagaimana Islam juga mengatur hal-hal yang dapat menjamin keselamatan dan kebahagiaan keluarga tersebut.

Islam mempermisalkan keluarga seperti suatu lembaga yang didirikan atas kerja sama antara dua orang. Penanggung jawab utama adalah suami. Ia berperan sebagai pemimpin yang bertanggung jawab mempertahankan dan membahagiakan lembaga tersebut. Sedangkan istri sebagai rekan kerjanya juga ikut serta membantu tercapainya tujuan yang ingin digapainya.

Tunaikanlah Hak Tersebut Kepada Yang Berhak

Orang yang bijak adalah orang yang selalu menunaikan dan memberikan hak kepada ahlinya. Cermatilah kisah yang terjadi pada zaman Rosulullah. Pada suatu hari sahabat yang mulia Salman Al-Farisi menziarahi Abu Darda’ menemuinya dengan membawa makanan seraya berkata:

“Makanlah sedangkan saya sedang puasa (puasa sunnah).”

Maka berkatalah Salman kepadanya:

“Saya tidak akan makan hingga engkau makan bersamaku.”

Akhirnya, Abu Darda’ ikut makan bersamanya. Pada malam harinya ia bangkit untuk sholat malam, tetapi Salman mencegahnya dan berkata kepadanya:

“Tidurlah !”

Maka ia tidur lantas bangun lagi untuk sholat malam, namun Salman mencegahnya lagi dan menyuruhnya tidur kembali. Tatkala akhir malam tiba, Salman membangunkan Abu Darda’, keduanya lantas sholat malam. Lalu Salman berkata kepadanya:

“Sesungguhnya Robb-mu punya hak, badanmu juga punya hak, istrimu juga punya hak, maka tunaikan dan berikanlah masing-masing hak itu pada ahlinya.”

Tatkala Rosulullah mendengar kisah tersebut beliau membenarkan Salman. Demikianlah generasi mulia dalam beragama, mereka memberikan hak pada setiap orang yang berhak menerimanya, tidak berlebihan dan tidak menzalimi yang lainnya.

Agungnya Hak Suami

Ketahuilah bahwasanya hak seorang suami sangat besar nan agung. Hal ini digambarkan oleh Nabi dalam sabdanya:

“(ibarat) hak suami atas istrinya (kewajiban istri) seandainya terdapat luka pada tubuh suaminya lantas istri menjilatnya maka belumlah ia menunaikan haknya.” (HR. Ahmad: 12949 dishohihkan Al-Albani dalam Shohih Al-Jami: 3148)

Lebih dari itu, jikalau boleh seorang manusia sujud kepada selain Allah, niscaya seorang wanita akan diperintah untuk sujud kepada suaminya, lantaran amat agungnya hak seorang suami. Seorang wanita muslimah yang cerdas lagi taat, ia akan mengagungkan apa yang diagungkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Ia akan memuliakan suaminya dan akan bersungguh-sungguh dalam menunaikan hak suaminya.

Hak Suami Yang Harus Dipenuhi Oleh Seorang Istri

Ketahuilah, bahwasanya banyak sekali hak suami yang tidak diketahui atau dilupakan oleh kaum wanita terutama pada akhir zaman ini, sehingga hak suami yang agung tersebut terlantar. Di antara hak-hak suami yang mulai dilupakan istri adalah:

 

  • Mentaati semua perintahnya selama perintahnya tidak melanggar syari’at.

 

Sebagaimana sabda Nabi:

“Apabila seorang wanita telah sholat lima waktu, berpuasa pada waktunya, menjaga farjinya, dan mentaati suaminya, maka dikatakan baginya: ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana-pun yang engkau kehendaki’.” (HR. Ahmad: 1683 dishohihkan Al-Albani dalam Shohih Al-Jami: 662)

    • Menjaga kehormatan dan kemuliaan suami, menjaga harta, anak-anak, dan mengurus semua urusan rumah tangganya.

Sebagaimana sabda Nabi:

“Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari: 893)

    • Senantiasa berhias untuk suami, tersenyum, ceria dihadapannya dan tidak menampakkan sesuatu yang tidak disukai suaminya.

Rosulullah bersabda:

“Sebaik-baik wanita adalah yang apabila seorang suami memandangnya menyenangkannya…” (HR. Thobroni dishohihkan Al-Albani dalam Shohih Al-Jami: 3299)

Semoga Allah merahmati kita, berdandanlah dan berhiaslah dihadapan suami, buatlah wajah kalian selalu ceria ketika suami memandangnya, karena hal itu lebih bisa membuahkan rasa sayang yang menguatkan ikatan tali kasih serta melanggengkannya. Janganlah termasuk di antara wanita yang hanya berhias dan berdandan dengan berlebihan ketika keluar rumah, namun berdandan ala kadarnya ketika dihadapan suami tercinta.

    • Hendaknya istri senantiasa berada di rumah suaminya, tidak keluar darinya walaupun ke masjid kecuali dengan izinnya.

Allah berfirman yang artinya:

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu…” (QS. Al-Ahzab 33:33)

Syaikhul Islam berkata:

“Tidak halal bagi seorang istri keluar rumah tanpa izin suaminya, apabila ia keluar tanpa izinnya maka ia telah durhaka kepada suaminya, maksiat kepada Allah dan Rosul-Nya sehingga berhak untuk mendapatkan hukuman.”

    • Tidak berpuasa sunnah kecuali dengan izinnya.

Rosulullah bersabda:

“Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sedangkan suaminya hadir di hadapannya, kecuali dengan izinnya.” (HR. Bukhori: 5195)

Jumhur ulama berpendapat bahwa, haram hukumnya jika istri puasa sunnah sedangkan suami tidak mengizinkannya. Imam Nawawi menjelaskan sebab pengharaman ini kerena suami berhak bersenang-senang (berhubungan intim) di setiap waktu, dan haknya wajib untuk ditunaikan dan tidak terhalang oleh sunnah.

    • Seorang istri hendaknya ridho dan qona’ah dengan pemberian suami walupun sedikit.

Semoga Allah memberkati kita, terimalah pemberian suami dengan lapang dada, jangan meminta dan menuntut sesuatu diluar batas kemampuannya. Janganlah menambahi beban beratnya dengan tuntutan-tuntutan.

Tengoklah cerminan umat ini, lihatlah istri-istri Nabi, juga istri para sahabat Yang Mulia, amatilah bagaiman kehidupan mereka, teladanilah mereka, janganlah meneladani wanita-wanita yang menyusahkan suaminya dan tidak puas dengan pemberian suaminya.

    • Berkeinginan kuat untuk menjaga kelangsungan hidup rumah tangganya.

Tidak sepatutnya seorang istri meminta cerai kepada suaminya tanpa ada alasan yang syar’i. Rosulullah mengancam bagi sorang istri yang meminta cerai tanpa alasan syar’i. Sesuai dengan sabdanya:

“Wanita manapun yang meminta cerai kepada suaminya tanpa sebab dan alasan syar’i, maka haram baginya bau surga.” (HR. Abu Dawud: 1899 dishohihkan oleh Al-Albani dalam Shohih Sunan Abi Dawud: 2226)

Termasuk dalam hal ini meminta cerai jika suaminya ingin menikah lagi. Karena poligami merupakan syariat Allah yang suci dan sunnah Rosul-Nya yang penuh hikmah bagi semua orang. Dan sangat berbahaya bagi siapa-pun yang tidak ridho dan bahkan membenci sunnah beliau ini.

Inilah beberapa hak suami yang wajib bagi istri untuk bersungguh-sungguh dalam menunaikannya, karena hal itu akan membentuk keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah yang akan terbentuk darinya masyarakat yang baik. Dan bagi suami, sadarilah bahwa istri bukanlah seorang malaikat yang luput dari lupa dan kesalahan, tetapi ia adalah manusia biasa yang kadang lupa dan berbuat salah. Lapangkan dada dan maafkanlah jika istri berbuat salah sehingga tidak bisa memenuhi hak suami.

Dan bagi para orang tua, hendaklah menasihati putri-putri-nya sebelum berumah tangga dengan nasihat-nasihat yang baik yang bisa melanggengkan rumah tangganya.

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Baca juga :