Kenapa Rusia Puasanya Sampai 21 Jam?

Beberapa waktu yang lalu seorang teman mengirimkan Pesan Singkat kepada saya. Isinya kurang lebih begini : “Brandon, ana mau nanya deh. Kenapa sih puasa di luar negeri waktunya ada yang lebih lama dan ada yang lebih cepat dari Indonesia. Contohnya di Rusia. Disana waktu puasanya ampe 21 jam, loh. itu karena faktor apa ya ?”

Puasa 21 Jam

Aku memang bukan ahlinya, namun perlahan kusambungkan potongan-potongan ilmu yang pernah ku dapat, baik saat masih Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, bahkan ketika membaca ayat-ayat Allah dan berusaha untuk mentadabburinya. 🙂

Pertanyaan ringan, namun Allah pun sudah menjawabnya di dalam Al-qur’an“, demikian pikirku. Jujur saja, pertanyaan ini sering kudapati ketika masih duduk di kursi SMP dan SMA, namun selama ini aku hanya mampu menjawabnya berdasarkan Ilmu Alam sebagaimana yang sering kita pelajari di pelajaran Biologi. Ya,  tepat sekali… salah satu dampak dari revolusi bumi adalah “Terjadinya perbedaan Lama (Periode) waktu di bumi”. Contoh, Indonesia karena berada di garis khatulistiwa, yang notabanenya ditengah bumi (jika dibelah secara horizontal), maka lama waktu siang dan malamnya adalah sama, yakini 12 jam siang dan 12 jam malam.

Namun,karena kemiringan bumi adalah 66,5 derajat terhadap bidang eliptika (24,5 dr sumbu vertikal), dan bentuk bumi itu sendiri yang bulat, serta bumi berotasi terhadap matahari, maka terjadilah perbedaan LAMA waktu siang dan malam antara satu bagian belahan bumi dengan bagian belahan bumi lainnya (note : itu adalah dampak dari revolusi bumi). Misalnya di Rusia, lamanya matahari terbit hingga terbenam adalah 21 jam. Sedangkan Australia 19 Jam, Mesir 18 Jam. Alaska 20 Jam, dan Indonesia 12 jam. Sehingga meskipun waktu setempat sudah menunjukkan pukul 19:00, namun matahari masih terang sebagaimana jam 4 di Indonesia.

Oleh karena itu, waktu puasa adalah : sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Allah menyebutkan dalam surat Al-Baqarah : 189; bahkan Allah menggunakan kata Hilal, dan Nabi SAW juga bersabda :”berpuasalah kamu semua karena melihat hilal, dan berbukalah kamu sekalian karena melihat hilal”. Dalil ini yang kemudian disesuaikan dengan waktu yang berlaku pada daerah/tempat masing-masing muslim itu tinggal. Allah dan Rasulullah tidak pernah menyebutkan pada dalil manapun patokan JAM nya secara spesifik. Yang ada hanya tanda alam (terbit fajar hingga terbenam matahari). Karena memang bumi ini bulat dan berputar; baik pada porosnya maupun mengelilingi matahari (itu juga Allah IradahNya Allah).

Bagaimana dengan negara yang siang malamnya matahari tak pernah tenggelam. Sehingga baik siang maupun malam, matahari akan terus-terusan eksis ? hehehe :p. Naah, kalau kejadiannya begini, maka muslim di negara (tempat tersebut) dapat melakukan 2 hal :

  1. Mengikuti waktu negara (wilayah) yang paling dekat dengannya, yang memiliki perbedaan waktu yang jelas antara matahari terbit dan terbenam, atau
  2. Mengikuti langsung waktu ka’bah.

2 pendapat tersebut merupakan ijtihad para ulama, sebagaimana yang pernah terjadi di norwey dan beberapa negara kutub lainnya. Sumber : http://forum.kompas.com/internasional/285728-berpuasa-di-negara-matahari-tak-pernah-tenggelam.html.

Masyaa Allah ya teman-teman. Betapa luas Ilmu dan Kuasa Allah. Bahkan untuk hal-hal ringan, yang sering disepelekan manusia saja, semuanya sudah dijelaskan di dalam Al-qur’an. Tinggal kita yang menggunakan logika dan akal yang dititipkan Allah pada setian manusia. Allah sudah menjelaskan semuanya dalam Al-qur’an teman, Semuanya.. Tinggal kita nih yang mem-Break Down ke dalam kehidupan nyata sehingga menjadi sesuatu yang teradaptasi secara nyata dan sempurns, Bagi Orang-Orang Yang Berpikir.

Sesaat,,, tersenyumku dalam diskusi singkat dengan sang teman yang bertanya tadi. Memang, Alam dan Seluruh CiptaanNya ini adalah bukti dan Ayat yang harus kita Baca, perhatikan, pahami, hayati dan pelajari, kawan. Hingga akhirnya semuanya bermuara kembali pada Rasa Syukur dan Takjub kita sebagai Hamba yang tidak ada apa-apanya… Masyaa Allah…:)

Alhamdulillah, terima Kasih Allah. Melalui perantara seorang teman yang bertanya tadi, Aku diingatkan untuk  terus membaca Kebesaran-Mu dan Bersyukur untuk semuanya,,, Ya,,, semuanya.. 🙂
Untuk temanku yang bertanya tadi, semoga dirimu puas dengan jawabannya dan semoga bermanfaat untuk teman-teman lain yang membaca tulisan singkat ini… 😀