We Call it “Acomodador”

Dalam hidup kita sering dihadapkan pada berbagai situasi tak terduga, terkadang diatas ekspektasi, namun tak jarang bertentangan dengan rencana dan impian. Apapun itu, semuanya harus dihadapi dengan SABAR dan SYUKUR.

acomodador

Ya… selalu bersabar dalam kesyukuran tatkala berada di atas, ketika usaha dan doa bertemu dengan kesempatan dan hasil yang diatas rata-rata dan jangan pernah berhenti bersyukur dalam bersabar menunggu situasi berbalik dan meng-aamiini semua ikhtiar (usaha) dan doa kita.

Butuh pengendalian diri yang kuat untuk menghadapi situasi tak terduga dalam hidup seperti itu, termasuk untuk tidak menyerah pada keadaan dan tetap berlaku seperti biasa; membuat orang-orang disekitar kita senang dan tidak khawatir berlebihan pada diri kita. Exactly… karena naluri alamiah manusia adalah keinginan untuk menyenangkan atau membahagiakan orang lain, apalagi orang yang dicintainya, termasuk jika orang lain itu adalah diri mereka sendiri.

Dan untuk kesempatan kali ini, karena banyaknya email yang masuk dan bertanya tentang “How to deal with our big problems”, maka kita akan membahas tentang saat-saat manusia berada dibawah atau masalah besar atau Titik Menyerah dalam hidup or, we call it Acomodador.

Terinspirasi dari sebuah buku karya Paulo Coelho, yang direkomendasikan oleh salah seorang mentorku, menyebutkan bahwa

“Acomodador atau titik menyerah; selalu ada dalam hidup dan kehidupan manusia yang akan menghalang-halangi kita pada kemajuan. Bentuknya bisa diawali dengan suatu trauma, kekalahan yang sangat menyakitkan, kehilangan hal yang amat disayangi, kekecewaan dalam cinta, bahkan kemenangan yang tidak kita pahami bisa membuat kita menjadi pengecut dan menghambat kita untuk berpikir dan bergerak maju”.

Ya.. aku sepakat, dan melalui titik menyerah inilah ketidakyakinan itu merasuk diri, menembus lintas batas jaringan dan susunan syaraf dalam tubuh; hawa nafsu dan rasa malas terus bergumul menjadi sebuah keputus-asaan yang berakhir pada pengeluhan dan rasa tidak bersyukur pada hidup; disaat seperti ini tanpa disadari kita tengah membuka pintu selebar-lebarnya dan mempersilahkan setan masuk dan mengisi relung-relung jiwa. Ya.. setan sangat suka pada posisi dimana manusia mulai berhenti dan putus asa dari Rahmat Allah; baik dalam keadaan sedih ataupun senang.

So, everybody.. jangan pernah biarkan Acomodador  membuat kita semua lupa diri (uncontrol) ya. Bersedih karena kegagalan; harapan yang tak kunjung tercapai, atau bahkan tidak menemukan jawaban yang dicari dalam hidup adalah hal yang sangat general dan umum terjadi pada keumuman manusia. Namun yang membedakan manusia cerdas dengan manusia standar adalah bagaimana mereka mencari, menemukan dan mempercayai jalan keluarnya. Dan semua itu tidak akan pernah ada habis-habisnya kecuali kita mengikatkan diri pada Rahmat Allah, dimana pun dan kapan pun.

Acomodador.  Itu cocok dengan pengalamanku belajar memanah. Pelatihku mengatakan tidak ada tembakan anak panah yang bisa diulangi, dan tidak ada gunanya belajar dari tembakan bagus atau tembakan buruk (melesat). Hal yang paling baik dilakukan adalah mengulang-nguang ratusan dan ribuan kali, sampai kita mampu membebaskan diri kita dari usaha untuk mengenai sasaran; melebur menjadi busur, anak panah dan bantalan sasaran itu sendiri. Maka disaat itulah “kolaborasi kekuatan” dan keyakinan kita akan  memandu gerakan untuk melepaskan anak panah. Bukan saat kita menginginkannya, tapi saat “kolabolarasi kekuatan itu” yakin bahwa saatnya telah tiba.

Sama seperti hidup. Memaknai tujuan tertinggi dalam hidup ini bukan hanya sekedar dari pekerjaan atau bahkan identitas sosial yang dianggap bagus, sukses atau buruk dan gagal (rendah), karena itu hanya perspektif manusia yang sifatnya sementara (fana). Tak pernah ada kata berhenti; berislam adalah berproses untuk semakin mengenal dan dekat dengan Sang Pencipta; membaca dan memahami apa yang ada di sekeliling kita adalah ikhtiar (upaya) yang kita lakukan untuk mengenalNya.

Dan itu pula alasannya mengapa ayat pertama yang diturunkan Allah adalah “Iqra”, “Bacalah”. Setelah kita mampu mengkolaborasikan setiap makna yang terkandung pada makhlukNya yang ada disekitar kita, merasakan sepersekian dari kekuatan dan kehadiranNya melalui lingkungan kita; maka disaat yang tepat, tujuan tertinggi dalam hidup itu akan tercapai. Sulit untuk dideskripsikan secara lugas dan jelas, sampai kita benar-benar mau meleburkan diri pada setiap “pesan dan kekuatan” yang harus kita baca di lingkungan sekitar.

Acomodador. Aku kembali teringat bagaimana kondisi keluargaku saat aku ingin sekali melanjutkan kuliah di tahun 2010 silam. Saat itu alm. Ayah sudah 5 tahun lebih pensiun dari sebuah perusahaan gas di Aceh, Adikku masih sekolah SD. Pilihannya adalah aku atau adikku yang melanjutkan sekolah. Secara logis, aku memilih adikku, dia lebih membutuhkan dana untuk pendidikan dasarnya saat itu. Namun bukan berarti aku menyerah; membiarkan kesedihan berlama-lama bersarang dalam tubuh kecil ini; menyalahkan orang tua; kemudian keputus-asaan muncul dan bersemayam dalam diri; hingga mengundang setan untuk terus merasuki pikiran dan hati; dan disinilah “drama kehidupan yang tidak kuinginkan itu akan dimulai dan dikuasai oleh setan dan nafsu buruk”. Tidak, aku memilih untuk tidak membiarkan Acomodador itu hadir dalam Diary kehidupanku.

Ya,, itu pilihanku. Aku lebih memilih untuk menghabiskan waktu 2 jam perhari untuk mecari informasi beasiswa dan menyiapkan segala hal yang kubutuhkan untuk mendapatkannya, mulai dari surat rekomendasi, 3 sampai 4 essay yang kutulis berulang-ulang hingga kuanggap cukup baik, tak lupa nilai rapot yang terus kujaga agar tidak melesat dari target dan sasaran beasiswa yang kuinginkan, dsb. Hingga saat semua teman-temanku sibuk mendaftar kuliah di PTN ini dan itu, Alhamdulillah, aku sudah mengantongi lebih dari 8 beasiswa di PTN dan PTS dalam dan luar negeri.  Akhirnya kuputuskan untuk merantau ke Yogyakarta, berkuliah di UGM jurusan Sastra Jepang. Tak lama atas izin Allah aku mendapat tawaran beasiswa dari Universitas Paramadina, dan aku pindah ke Jakarta memenuhi panggilan studi di Jurusan Hubungan Internasional itu.

Acomodador. “Selalu ada kejadian dalam hidup kita yang menghalangi tujuan, harapan, kemajuan, dan cita-cita kita”

Aku sampai pada kesimpulan, bahwa secara sunnatullahAcomodador/Titik Menyerah dalam hidup itu pun kita yang menentukan. Allah memberi kita kesempatan untuk memilih sekaligus ujian untuk menentukan sejauh apa kita menggantungkan diri pada RahmatNya, bukan pada keegoisan diri, atau bahkan pada kesombongan atas kemampuan kita. Harus diakui bahwa dalam hidup ini, segala sesuatu pasti ada sunnatullahnya (usaha). Jika kita menginginkan sesuatu, maka kita harus berusaha. Semakin kita kuat dan keras menguasahakannya, maka teori SESTAKUNG (Semesta Mendukung) pun almost akan berlaku. Percaya deh 😉

Therefore, buat teman-teman yang merasa saat ini atau akan menghapai Acomodador dalam hidup, tidak perlu khawatir. Semua tetap menjadi keputusan kalian, guys. Mau menghadapi dan menyelesaikan permasalahan itu dengan cara pengecut atau sebaliknya. Berhenti menyalahkan orang-orang dan lingkungan sekitar kita. Lihat apa yang salah di diri kita, strart from ourselves, atau kalo bahasa kerennya ibda’ binafsih (mulai dari diri sendiriand we will find how to win the others, included the problems are.

Tulisan oleh : Sherly Annavita R

Baca juga :